Selasa, 19 Maret 2013

PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM

A. Pendahuluan Agama adalah kata yang mudah diucapkan namun sulit mendefenisikannya. James H. Leuba dalam buku Abudin Nata menjelaskan tak kurang 48 teori tentang defenisi agama. Suatu pengertian agama yang dikemukakan seorang ahli masing-masing tidak dianggap superior dan tertutup untuk menerima pendapat orang lain yang justru merugikan. Selanjutnya dijelaskan ada lima aspek yang terkandung dalam agama. Pertama aspek asal usulnya, seperti agama samawi dan ardi. Kedua aspek tujuannya sebagai pedoman hidup. Ketiga aspek ruang lingkup, kenyakinanan adanya kekuatan ghaib. Keempat, aspek pemasyarakatannya berupa turun menurun. Kelima aspek sumbernya berupa kitab suci. Amin Abdullah menjelaskan agama selalu mencakup dua entitas yang tidak dapat dipisahkan tetapi dapat dibedakan, yaitu pertama normativitas berupa teks, ajaran, belief, dogma. Kedua historisitas berupa praktik dan pelaksanaan ajaran, teks, belief, dogma tersebut dalam kehidupan konkrit di lapangan. Studi Agama perlu memperhatikan dua entitas tersebut dengan cermat, sehingga tidak perlu kecewa, apalagi marah-marah meluapkan emosi, jika terjadi dan menjumpai “perbedaan tafsir keagamaan” pada level historisitas, meskipun idealnya memang tak perlu adanya perpecahan karena bersumber dari sumber ajaran normative yang sama, yaitu teks-teks atau nash-nash al-Qur’an and al-Sunnah. Dengan kompleknya situasi yang dihadapi maka pendekatan antropologi terhadap agama diperlukan untuk memberi wawasan keilmuan yang lebih komprehensif tentang entitas dan substansi agama yang sampai sekarang masih dianggap sangat penting untuk membimbing kehidupan umat manusia baik untuk kehidupan pribadi, komunitas, sosial, politik maupun budaya para penganutnya. Maka dalam makalah ini akan membahas : 1. Apakah pendekatan antropologi agama? 2. Bagaimana penerapannya dalam Studi Islam? 3. Apa fungsi pendekatan antropologi dalam studi Islam? B. Pembahasan 1. Pengertian Pendekatan Antropologi Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Adapun antropologi adalah ilmu tentang manusia dalam bentuk fisik atau jasmaniyah khususnya tentang asal usulnya, aneka warna kulit, adat istiadat, perkembangan sosialnya dan kepercayaanya tentang masa lampau. Antropologi seperti semua disiplin ilmu pengetahuan lainnya, harus membebaskan dirinya dari visi yang sempit. Ia harus mempelajari sesuatu yang baru, sederhana, tetapi kebenaran yang primordinal dari semua ilmu pengetahuan yaitu kebenaran pertama Islam. Antropologi secara sederhana adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan kebudayaan. Kebudayaan adalah semua produk hasil penelitian, ciptaan serta kreasi masyarakat baik material maupun non material. Contoh kebudayaan adalah rumah sebagai tempat tinggal, model pakaian dan lainnya. Contoh yang non material adalah kesenian, agama, pandangan hidup, aturan, dogma, nilai yang diakui, dijunjung dan mengikat bersama secara kelompok. 2. Studi Islam dan Antropologi 1. Studi Agama Dalam kamus sosiologi antropologi, agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada tuhan (kepada dewa dan sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan. Agama sebagai sasaran studi antropologi dapat disimpulkan dalam dua hal. Pertama, antropologi yang merupakan bagian dari kebudayaan dan menjadi salah satu sasaran kajian yang penting sehingga menghasilkan kajian cabang tersendiri yang disebut dengan antropologi agama. Kedua, semua cabang-cabang antropologi sebenarnya masih ada pada satu rumpun kajian yang bisa saling berhubungan yaitu antropologis. Karena itu pendekatan antropologi identik dengan pendekatan kebudayaan. Selanjutnya ditinjau dari kacamata antropologi agama, menurut John R Bowen, agama adalah sekumpulan ide-ide atau pemikiran dan seperangkat tindakan konkrit sehari-hari yang didasarkan atas postulasi atau keyakinan kuat adanya realitas yang lebih tinggi berada di luar alam materi yang biasa dapat dijangkau langsung dalam kehidupan materi. Apa yang disebut agama, dalam praktiknya, memang sangat berbeda dari satu masyarakat pemeluk agama tertentu ke masyarakat pemeluk agama yang lain, baik yang menyangkut sistem kepercayaan yang diyakini bersama, tingkat praktik keagamaan yang dapat melibatkan emosi para penganutnya, serta peran sosial yang dimainkannya. Agama-agama Abrahamik dan non-Abrahamik, dan lebih-lebih agama-agama lokal yang lain adalah sangat berbeda dalam penekanan aspek keberagamaan ysng dianggap paling penting dan menonjol. Ada yang menekankan pentingnya sisi ketuhanan (deities atau spirits), ada yang lebih menekankan kekuatan impersonal (impersonal forces) yang dapat menembus dunia alam dan sosial, seperti yang dijumpai di agama-agama di Timur. Atau bahkan ada yang tidak memfokuskan pada sistem kepercayaan sama sekali, tetapi lebih mementingkan ritual. Islam sebagai gejala antropologi, banyak objek kajian yang dapat dilakukan. Diantaranya dalam bentuk apa yang disebut gejala agama dan keagamaan : a. Scripture atau naskah-naskah atau sumber ajaran atau simbol-simbol. b. Penganut atau pemimpin atau tokoh atau pemuka agama, yakni pemahaman, sikap, perilaku dan penghayatan. c. Ritus-ritus, lembaga-lembaga, dan ibadah seperti sholat, puasa, zakat , waris, sekaten, maulid Nabi, lembaga wakaf. d. Alat-alat agama dan keagamaan, seperti masjid, peci, tasbih dll. e. Organisasi-organisasi sosial keagamaan, seperti UN, Muhammadiyah, Persis, dll. Selanjutnya A. Dimyati menjelaskan bahwa kalangan akademik memetakan unsur-unsur dalam agama dengan istilah 4 C (Canon, Cault, Community, dan Culture), sebagai berikut : a. Canon adalah unsur agama yang berwujud kumpulan ajaran atau doktrin yang menjadi pegangan oleh setiap pemeluk agama dalam sebuah kitab suci, misalnya al-Qur’an, Injil, Zabur, Torah dll. b. Cault merupakan unsur agama yang berupa imam, nabi,pemimpin atau tokoh yang menjadi panutan bagi suatu komunitas agama. c. Community merujuk pada kumpulan, masyarakat atau organisasi yang menjadi wadah bagi para penganut agama tertentu. d. Culture yang terjemahannya adalah budaya merujuk pada sisi ekspresi keberagamaan seseorang atau suatu masyarakat. Pada umumnya, hasil field note research di lapangan dari berbagai kawasan, para antropolog hampir menyepakati bahwa agama melibatkan 6 dimensi : l) Ritual (perform certain activities), 2) kepercayaan, dogma (believe certain things), 3) leadership; kepemimpinan (invest authority in certain personalities), 4) kitab suci, sacred book (hallow certain text) 5) sejarah dan institusi (telling various stories) , dan 6) moralitas (legitimate morality). Ciri paling menonjol dari studi agama – yang membedakannya dari studi sosial dan budaya, adalah keterkaitan keenam dimensi tersebut dengan keyakinan kuat dari para penganutnya tentang adanya Realitas tertinggi yang tidak dapat difalsifikasi (non-falsifiable postulated alternate reality). Keenam dimensi keberagamaan tersebut jika dikontekskan dengan agama Islam, maka kurang lebih akan menjadi sebagai berikut: 1) Ibadah, 2) Aqidah, 3) Nabi atau Rasul, 4) al-Qur’an dan al-Hadis 5) al- Tarikh atau al-Sirah dan 6) al-Akhlaq. Keenam dimensi tersebut lalu dikaitkan dengan Allah (yang bersifat non-falsifiable alternate reality) juga. Sebutlah ke enam dimensi tersebut – peneliti dan sarjana studi agama lain bisa menambah atau menguranginya – sebagai General Pattern dari agama-agama dunia, tetapi begitu keenam dimensi keberagamaan manusia tersebut masuk ke wilayah praktik sehari-hari di lapangan, maka ia akan masuk ke wilayah Particular Pattern. Wilayah Partcular Pattern dari agama-agama tersebut adalah ketika agama bergumul dan masuk dalam dalam konteks perubahan sosial, politik, ekonomi dan budaya, juga geografi, perbedaan iklim dan kondisi alam yang berbeda-beda. Semuanya akan jatuh ke wilayah diversitas atau kepelbagaian. Dalam pandangan studi agama, lebih-lebih dalam perspektif antropologi agama, agama-agama di dunia tidak ada yang sama. Kepelbagaian ada disitu. Dalam local practices dari ke enam dimensi tersebut, yang ada hanyalah kepelbagaian dan keanekaragamaan. Tapi, dengan muncul dan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya martabat kemanusiaan (human dignity), maka para tokoh agama-agama tersebut juga menggarisbawahi pentingnya General Pattern (atau, dalam bahasa Islam : Kalimatun sawa). yang ada di balik diversifikasi Partcular Pattern tersebut. 2. Cara Kerja Antropologi Adapun metode yang lebih tepat dengan pendekatan antropologi adalah metode holistik. Artinya, dalam melihat satu fenomena sosial harus diteliti dalam konteks totalitas kebudayaan masyarakat yang dikaji. Sedang tehnik pengumpulan data yang paling tepat adalah dengan pengamatan terlibat (observasi) dan wawancara mendalam, yaitu terjun langsung berbaur dalam masyarakat yang diteliti. Pengumpulan data semacam ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memperoleh pemahaman yang maksimal dari perspektif masyarakat yang diteliti bukan dari perspektif pengamat atau peneliti. Setidaknya Amin Abdullah, ada 4 (empat) ciri fundamendal cara kerja pendekatan antropologi terhadap agama, yaitu: a. bercorak descriptive, bukannya normative atau thick description yaitu pengamatan dan observasi di lapangan yang dilakukan secara serius, terstuktur, mendalam dan berkesinambungan. Thick description dilakukan dengan cara antara lain Living in, yaitu hidup bersama masyarakat yang diteliti, mengikuti ritme dan pola hidup sehari-hari mereka dalam waktu yang cukup lama. Bisa berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun, jika ingin memperoleh hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkansecara akademik. John R Bowen, misalnya, melakukan penelitian antropologi masyarakat muslim Gayo, di Sumatra, selama bertahun-tahun. Begitu juga dilakukan oleh para antropolog kenamaan yang lain, seperti Clifford Geertz. Field note research (penelitian melalui pengumpulan catatan lapangan) dan bukannya studi teks atau pilologi seperti yang biasa dilakukan oleh para orientalis adalah andalan utama antropolog. b. Local practices, yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan. Praktik hidup yang dilakukan sehari-hari, agenda mingguan, bulanan dan tahunan, lebih –lebih ketika manusia melewati hari-hari atau peristiwa-peristiwa penting dalam menjalani kehidupan. Ritus-ritus atau amalan-amalan apa saja yang dilakukan untuk melewati peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan tersebut (rites de pessages) ? Persitiwa kelahiran, perkawinan, kematian, penguburan. Apa yang dilakukan oleh manusia ketika menghadapi dan menjalani ritme kehidupan yang sangat penting tersebut?. c. connections across social domains yaitu antropologi selalu mencari keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai domain kehidupan secara lebih utuh. Bagaimana hubungan antara wilayah ekonomi, sosial, agama, budaya dan politik. Kehidupan tidak dapat dipisah-pisah. Keutuhan dan kesalingterkaitan antar berbagai domain kehidupan manusia. Hampir-hampir tidak ada satu domain wilayah kehidupan yang dapat berdiri sendiri, terlepas dan tanpa terkait dan terhubung dengan lainnya. d. Comparative yaitu perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama. Bukan sekedar untuk mencari kesamaan dan perbedaan, tetapi yang terpokok adalah untuk memperkaya perspektif dan memperdalam bobot kajian. Dalam dunia global seperti saat sekarang ini, studi komparatif sangat membantu memberi perspektif baru baik dari kalangan insider maupun outsider. 3. Fungsi Pendekatan Antropologi dalam Studi Agama Islam Menurut Abudin Nata dalam buku Metodologi Studi Islam, bahwa melalui pendekatan antropologis akan didapati hasil, yang diantaranya: a. Pendekatan antropologis dapat melihat agama dalam hubungannya dengan mekanisme pengorganisasian (social organization). b. Dapat melihat hubungan antara agama dan negara. c. Melihat keterkaitan agama dengan psikoterapi. Selain itu Amin Abdullah menjelaskan fungsi pendekatan antropologi terhadap realita konkrit dilapangan akan dapat membantu tumbuhnya saling pemahaman atar berbagai paham dan penghayatan keagamaan yang sangat bermacam-macam dalam kehidupan riil masyarakat Islam baik pada tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai ‘khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya. Penelitian dan studi antropologi agama akan sangat membantu memahami akar-akar kepelbagaian (diversity) dalam berbagai hal : kepelbagaian dalam menginterpretasi teks, perbedaan ritual peribadatan, model-model kepemimpinan, perjalanan kesejarahan, perkembangan kelembagaan agama, bagaimana pengetahuan dan ide-ide (gender, hak asasi manusia, kemiskinan, lingkungan) didistribusikan dan disebarluaskan dalam masyarakat luas lewat organisasi sosial-keagamaan dan lembaga-lembaga pendidikan, bagaimana keadilan dan kesejahteraan diperbincangkan. Akan dapat dijelaskan dan direkonstruksi kembali bagaimana praktik keagamaan (Local practices) pada tingkat lokal dalam keterkaitannya dengan pelbagai macam penafsiran oleh para tokoh (da’i, kyai, dosen, pemangku adat, tokoh agama, guru, dosen) dan pemangku kepentingan lainnya serta akibatnya dalam perbedaan kehidupan sosial. Dengan bantuan pendekatan antropologi, semua kepercayaan agama terbuka untuk diperdebatkan dan ditransformasikan kearah yang lebih baik-humanis. Dan ketika semua aktor terlibat dalam perdebatan dan penjelasan tersebut, maka akan membawa kepada pemahaman bahwa agama-agama sangat terbuka untuk kemungkinan-kemungkinan. baru yang lebih kondusif untuk kesejahteraan manusia di muka bumi. Dengan demikian, pendekatan antropologi dalam dalam studi Islam sangatlah diperlukan. Islam dimaksud disini adalah Islam yang telah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, Islam yang telah melembaga dalam kehidupan suku, etnis, kelompok atau bangsa tertentu, Islam yang telah terinstitusionalisasi dalam kehidupan organisasi sosial, budaya, politik dan agama. Islam yang terlembaga dalam kehidupan masyarakat yang menganut madzhab-madzhab, pengikut berbagai sekte, partai-partai atau kelompok-kelompok kepentingan tertentu. Hasil kajian antropologi terhadap realitas kehidupan konkrit di lapangan akan dapat membantu tumbuhnya saling pemahaman antar berbagai paham dan penghayatan keberagamaan yang sangat bermacam-macam dalam kehidupan riil masyarakat Islam baik pada tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. 4. Penelitian Antropologi dalam Studi Agama Islam Misalnya seperti penelitian yang dilakukan oleh Geetz tentang struktur-struktur sosial di Jawa yang berlainan. Struktur-struktur sosial yang di maksud adalah Abangan (yang intinya berpusat dipedesaan), Santri (yang intinya berpusat di tempat perdagangan atau pasar), dan Priyayi (yang intinya berpusat di kantor pemerintahan, dikota). Adanya tiga struktur sosial yang berlainan ini menunjukkan bahwa dibalik kesan yang didapat dari pernyataan bahwa penduduk Mojokuto itu sembilan puluh persen beragama Islam. Tiga lingkungan yang berbeda itu berkaitan dengan masuknya agama serta peradaban Hindu dan Islam di Jawa yang telah mewujudkan adanya Abangan yang menekankan pentingnya spek-aspek animistik, santri yang menekankan pentingnya aspek-aspek Islam dan priyayi yang menekankan aspek-aspek Hindu. Melalui pendekatan antropologi kita juga dapat melihat hubungan antara agama dan Negara. Seperti, negara Turki Modern yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tetapi konstitusi negaranya menyebut sekularisme sebagai prinsip dasar kenegaraan yang tidak dapat ditawar-tawar. Saudi Arabia dan negara Republik Iran yang berdasarkan Islam, orang akan bertanya apa sebenarnya yang menyebabkan kedua sistem pemerintahan tersebut sangat berbeda, yaitu kerajaan dan republik, tetapi sama-sama menyatakan Islam sebagai asas tunggalnya. Selanjutnya penetilian Amin Abdullah tentang bagaimana sesungguhnya peran para jurist dan fakih dalam menentukan corak, perbedaan interpretasi serta tingkat kedalaman pemahaman keagamaan, yang dijelaskan bahwa terjadi pergeseran pemahaman dan peran yang dimainkan oleh para fuqaha dalam setiap jaman. Meskipun menyebut local practices untuk era globalisasi sekarang adalah debatable, tetapi ada empat rangkaian tindakan keagamaan yang perlu dicermati oleh penelitian antropologi. Pertama, adalah bagaimana seseorang dan atau kelompok melakukan praktik-praktik lokal dalam mata rantai tindakan keagamaan yang terkait dengan dimensi social, ekonomi, politik, dan budaya. Sebagai contoh ada ritus baru yang disebut “walimah al-Safar”, yang biasa dilakukan orang sebelum berangkat haji. Apa makna praktik dan tindakan lokal ini dalam keterkaitannya dengan agama, sosial, ekonomi, politik dan budaya? Religious ideas yang diperoleh dari teks atau ajaran pasti ada di balik tindakan ini. Bagaimana tindakan ini membentuk emosi dan menjalankan fungsi sosial dalam kehidupan yang luas? Bagaimana walimah safar yang tidak saja dilakukan di rumah tetapi juga di laksanakan di pendopo kabupaten? Oleh karenanya, keterkaitan dan keterhubungan antara local practices, religious ideas, emosi individu dan kelompok maupun kepentingan sosial – poilitik tidak dapat dihindari. Semuanya membentuk satu tindakan yang utuh. C. Kesimpulan Pendekatan antropologi agama dapat membantu dan bahkan berkerja sama dengan studi Islam untuk menjelaskan dan melerai berbagai isu yang sulit dipecahkan atau dijelaskan dengan menggunakan salah satu pendekatan saja. Seperti meneliti bagaimana prilaku para pemimpin dan pengaruhnya, dan bagaimana perlakuan umat terhadap pemimpin agama dan seterusnya. Dengan bantuan pendekatan antropologi, semua kepercayaan agama terbuka untuk diperdebatkan dan ditransformasikan kearah yang lebih baik-humanis. Dan ketika semua aktor terlibat dalam perdebatan dan penjelasan tersebut, maka akan membawa kepada pemahaman bahwa agama-agama sangat terbuka untuk kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih kondusif untuk kesejahteraan manusia di muka bumi. DAFTAR PUSTAKA Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : Rajawali Pres, 2009). Akbar S. Ahmad, Kerah Antropolgi Islam, (Jakarta : Media Dakwah), hlm. 5-9. Amin Abdullah, Urgensi Pendekatan Antropologi untuk Studi Agama dan Studi Islam, (www. Aminadb.wordpres.com) tanggal 14 Januari 2011. Harun Nation, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, jilid I , (Jakarta : UI Press, 1985). James L. Cox, A Guide to The Phenomenology of Religion : Key Figur, Formatitive Influences and Subsequent Debates, (London and Nwe York, The Continuum International : Publishing Group : 2006). John R. Bowen, Religions in Practice : An Appoach to the Antropology of religion, Boston, Allyn and Bacon, 2002. Khoirudin Nasution, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta : ACAdeMia+Tazzafa, 2009), hlm. 217. M. Dahlan Yacub Al-Barry, Kamus Sosiologi Antropologi, (Surabaya : Indah Surabaya, 2001). Nurkholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban. (Jakarta: Paramadina, 2000). Richard C Martin, Islam and Religious Studies, An Introductory Essay, (Tucsong, the University of Arizona Press : 1985).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar